BUAH YANG DIGANTUNG, KESABARAN YANG DILATIH PERLAHAN

Pagi itu, cuaca cerah. Terlalu cerah, mungkin. Matahari jatuh langsung ke atap kandang, memantulkan panas yang membuat udara terasa lebih berat dari biasanya. Tidak banyak tempat bersembunyi dari terik, kecuali sudut-sudut kecil yang dibentuk bayangan jeruji dan struktur kandang.

Namun, panas tampaknya bukan persoalan utama hari itu. Di atas kandang, beberapa buah digantung. Tidak terlalu tinggi untuk dilihat, tetapi cukup tinggi untuk dijangkau. Jarak yang tampak sederhana bagi manusia, berubah menjadi tantangan kecil bagi enam orangutan muda (Bow, Noon, Jay, Raiking, Agam, dan Maximus) yang pagi itu mendapat enrichment buah gantung.

Begitu perawat satwa selesai memasang, reaksi mereka hampir serempak, aktif, waspada, dan segera mengarahkan perhatian pada satu hal yang sama. Masing-masing individu mulai mencoba caranya sendiri. Ada yang langsung menjulurkan tangan setinggi mungkin, tubuhnya memanjang, jari-jari terbuka lebar seperti berharap beberapa sentimeter tambahan bisa muncul begitu saja. Ada yang memanjat sisi kandang lebih dahulu untuk mencari sudut yang lebih menguntungkan. Ada pula yang mengamati sejenak, seolah sedang menghitung kemungkinan.

Yang menarik dari enrichment semacam ini bukan buahnya. Bukan pula siapa yang paling cepat mendapatkannya. Melainkan bagaimana setiap individu merespons tantangan yang sama dengan strategi yang berbeda.

Bow menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian pagi itu. Dari awal, ia tampak hampir sepenuhnya tenggelam dalam satu tujuan, mendapatkan buah yang tergantung di atasnya. Tidak ada distraksi berarti. Tidak ada keinginan mengganggu individu lain atau mencari jalan pintas dari hasil kerja orangutan lain. Hanya ada dirinya dan buah yang terus ia coba gapai.

Berulang kali Bow menjulurkan gangan, meregangkan tubuhnya semaksimal mungkin. Ujung jarinya hanya mampu menyentuh permukaan buah. Sedikit demi sedikit, tekanan dari sentuhan berulang membuat buah mulai rusak. Cairannya menetes perlahan. Dan di titik itu, Bow hanya mendapatkan sedikit rasa air buah yang menempel di jarinya. Sebuah hasil yang bagi sebagian individu lain mungkin cukup membuat frustasi.

Tapi Bow tidak menyerah. Ekspresinya terlihat serius. Fokusnya hampir tidak berubah. Sementara individu lain mulai berhasil mendapatkan bagian buah, Bow tetap bertahan pada targetnya sendiri. Sebelumnya, satu individu lain telah lebih dahulu berhasil mengambil sebagian buah. Kesempatan untuk merebut sebenarnya ada. Jaraknya dekat, risikonya kecil. Tapi Bow tidak memilih itu. Ia tetap melanjutkan usahanya sendiri.

Ada sesuatu yang menarik dalam pilihan tersebut. Bahwa bahkan dalam situasi yang membuka kemungkinan kompetisi, Bow tampak lebih memilih proses dibanding hasil instan. Sekitar 20 menit kemudian, usahanya membuahkan hasil.

Setengah buah berhasil ia dapatkan. Bukan kemenangan besar, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal, ketekunan kadang bekerja lebih lambat, tetapi tidak selalu kalah. Di sisi lain kandang, dinamika berbeda terjadi antara Jay dan Ranking.

Jika Bow mengandalkan kesabaran, Jay justru memperlihatkan sesuatu yang lain, oportunisme. Ia menyelesaikan enrichment dalam waktu kurang dari lima menit. Tapi bukan karena ia lebih kuat menjangkau buah yang tergantung rapi. Jay memperhatikan sesuatu yang lain. Saat keeper masih sibuk mengikat buah berikutnya sambil memegang keranjang, ada jeda kecil tidak disadari. Sebuah kelengahan singkat. Dan Jay memanfaatkannya. Dengan tenang, hampir tanpa tergesa, ia mengambil buah yang belum selesai diikat. Tidak ada drama. Tidak ada usaha berlebihan. Hanya keputusan cepat yang tepat waktu. Strategi yang efektif, meskipun sedikit “curang” jika dilihat dari sudut pandang permainan.

Begitu Jay berhasil mendapatkan buah, Ranking langsung merespons. Ia berusaha merebut sambil mengeluarkan terikan keras, campuran antara frustasi dan protes. Namun Jay tidak menyerah begitu saja. Ia melindungi buah itu dengan erat, membawa kabur hasil temuannya dan baru membagikannya ketika buah nyaris habis, menyisakan bagian mendekati biji.

Interaksi kecil itu menunjukkan dynamiska sosial yang terus berkembang tentang kepemilikan, negosiasi, dan batas toleransi antar individu. Sementara itu, Noon menghadirkan pola yang berbeda lagi. Respons awalnya baik, tetapi antusiasmenya tidak bertahan lama pada satu target. Noon tampak cepat bosan. Setelah beberapa waktu mencoba, ia lebih tertarik berpindah ke area individu lain.

Ketika Noon mendekati buah milik individu lain, yang justru seperti permainan tukat posisi. Saat Noon datang, individu tersebut berpindah ke tempat Noon sebelumnya. Perpindahan ini berlangsung berulang, hampir seperti tarian yang tidak direncanakan. Akhirnya, salah satu individu berhasil membuka kulit mangga yang tergantung menggunakan jari-jari mereka. Buah itu mulai mengeluarkan air.

Momen berikutnya terasa sederhana tapi menarik. Keduanya bergantian membuka mulut di bawah buah, menampung tetesan air mangga yang jatuh perlahan. Bukan cara tercepat untuk makan. Bukan pula yang paling efisien. Tapi cukup untuk menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan situasi. Selama 30 menit pengamatan, tidak ada satu pun enrichment yang benar-benar selesai seluruhnya. Dan justru di sanalah letak nilainya. Enrichment tidak selalu dirancang untuk segera diselesaikan. Kadang, tujuan utamanya adalah memperpanjang proses memberi ruang bagi usaha, frustasi kecil, strategi, hingga adaptasi. Hari itu yang digantung bukan hanya buah. Tetapi juga kesempatan bagi mereka untuk mencoba, gagal, mengulang, dan menemukan cara masing-masing.

Di bawah cuaca yang panas dan kandang yang dipenuhi aktivitas, enam orangutan muda itu mengingatkan satu hal sederhana bahwa belajar tidak selalu datang dari keberhasilan cepat. Kadang, ia hadir dalam bentuk tangan yang terus menjangkau yang nyaris tidak bisa diraih. (FAN)

PETANI HUTAN DARI LANGIT, PEMBAWA PESAN LELUHUR

Di ujung hutan yang masih bernapas pelan, di antara kabut pagi yang menggantung seperti doa yang belum selesai, seekor burung Enggang melintas di langit, sayapnya lebar, paruhnya kokoh dengan ciri khas terbangnya dengan bunyi kepakan sayapnya yang berhembus hingga terdengar kencang. Orang0orang Dayak menyebutnya lebih dari sekedar burung. Ia adalah titisan cerita, penghubung antara dunia manusia dan roh leluhur. Dalam ukiran kayu, dalam tarian, dalam nyanyian yang diwariskan dari mulut ke mulut. Enggang selalu hadir anggun, sakral, dan penuh makna. Konon, setiap kepakan sayapnya membawa pesan dari langit Ia tidak pernah terbang sembarangan. Ia memilih arah seperti manusia memilih jalan hidup dengan kehati-hatian dan hormat pada alam.

Di bawah lintasannya, hutan berdiri sebagai rumah bersama. Pohon-pohon tua menjulang seperti tiang penyangga dunia. Di sana, di antara cabang-cabang tinggi, individu orangutan bergelayut perlahan. Tangannya memeluk ranting, matanya menyimpan kesunyian yang panjang. Orangutan itu tahu, seperti halnya Enggang tahu bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ibu, ia adalah ingatan, ia adalah tubuh yang memberi tanpa meminta kembali.

Tetua Dayak pernah berbisik pada angin, “Jika Enggang hilang karena keserakahan, maka manusia telah memotong sayap kebijaksanaannya sendiri. Dan jika orangutan kehilangan hutan, maka manusia telah merobek akar kehidupannya”. Namun kini, dalam setiap cerita, terselip kegelisahan, akankah mereka hanya menjadi legenda?

Di kejauhan, seekor Enggang terbang rendah, seakan lelah memikul dunia. Di bawahnya, orangutan berpindah dengan hati-hati, mencari pohon yang tersisa. Dan hutan menahan napasnya, menunggu manusia mengingat kembali bahwa bulu bukan sekadar indah, tengkorak bukan sekadar pajangan, dan kehidupan bukan sesuatu yang bisa digantikan setelah hilang. (LUT)

AKU RANGER YANG IKUT RESCUE ORANGUTAN

Bulan lalu menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan penyelamatan (rescue) orangutan. Ini juga merupakan perjalanan pertama kalinya saya ke Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Sebuah kecamatan yang sangat terkenal dengan kasus pembantaian dan penyiksaan orangutannya di akhir tahun 2011 tepatnya di Desa Puan Cepak. Para pelaku kekejaman pada satwa liar yang berjumlah 4 orang tersebut dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 30 juta rupiah.

Panggil saya Igo, yang merupakan bagian dari tim APE Guardian. Biasanya, saya terlibat dalam kegiatan monitoring pasca pelepasliaran serta patroli di kawasan pelepasliaran. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut langsung dalam kegiatan penyelamatan. “Sungguh, gelisah sekali. Saya membayangkan bagaimana menghadapi berbagai kemungkinan, baik maupun buruk yang bisa terjadi selama proses penyelamatan.”.

Syukurnya, selama kegiatan rescue berjalan dengan lancar. Kerja bersama warga Sabintulung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan tim APE Crusader COP menjadikan aksi penyelamatan ini dapat terlaksana dengan baik. Hilangnya habitat orangutan membuka mata saya, hutan yang selama ini tim APE Guardian jaga, mungkin menjadi satu-satunya rumah yang tersisa yang bisa membuat orangutan nyaman. Rumah yang penuh dengan pakan orangutan, tempat tinggal yang memungkinkan orangutan satu bertemu dengan orangutan lain bahkan perjumpaan dengan satwa liar lain dengan suara khas hutan hujan Kalimantan.

Jaring pun terbentang, orangutan jantan yang kehilangan habitat telah berhasil ditembak bius, sesaat lagi dia akan jatuh. Kami harus memastikan dia tidak terluka dan siap untuk ditranslokasi. Iya, kami memindahkannya dari tempatnya sekarang ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Busang, dimana biasanya saya patroli. Jangan ditanya apa yang orangutan liar lakukan saat pintu kandang angkut dibuka. Dapat dipastikan dia melesat keluar dengan cepat, harum hutan tak akan bisa menahannya. (IGO)