KETIKA TANGAN-TANGAN PENYEMBUH MENANAM AKAR-AKAR KEHIDUPAN

Matahari siang di Berau menggantung terik di atas kanopi, memerangkap udara lembap yang terasa berat di kulit. Keringat mengalir lebih cepat daripada angin yang berembus pelan dari tepi hutan. Di tengah panas yang menyengat itu, tim medis pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau, Kalimantan Timur, untuk sementara meninggalkan ruang klinik mereka. Terdiri dari dua dokter hewan, Rengga dan Atalla, serta Tata, paramedis satwa, siang itu mereka tak lagi berdiri di balik meja periksa, melainkan ikut berlutut di atas tanah dalam kegiatan rutin bertajuk “Jumat Menanam”.

Biasanya, tangan-tangan itu menggenggam stetoskop, menyuntikkan obat, atau memeriksa denyut nadi orangutan yang tengah dipulihkan. Namun kali ini yang mereka bawa adalah dodos untuk melubangi tanah, ember untuk membawa air, dan bibit pohon yang akarnya masih terbungkus polybag. Seragam medis yang identik dengan aroma antiseptik kini bermain di tanah, menyatu dengan lanskap kawasan yang kelak menjadi ruang belajar bagi bayi-bayi orangutan yang mereka rawat.

Di BORA, pelestarian lingkungan tidak dibatasi oleh jabatan atau latar belakang pendidikan. “Jumat Menanam” mempertemukan seluruh staf, mulai dari dokter hewan, animal keeper, tim development, hingga manajemen, dalam satu tujuan yang sama: meningkatkan kualitas ekosistem di dalam kawasan BORA. Semangat gotong royong yang diusung COP menemukan wujud konkretnya pada kegiatan ini. Setiap individu, apa pun jabatannya, turut mengambil bagian yang sama dalam kegiatan penanaman pohon.

Bagi tim medis, menanam pohon menjadi pengalaman bentuk lain dari penyembuhan. Jika di klinik mereka merawat tubuh yang terluka, di sini mereka menyiapkan masa depan yang lebih utuh. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam hari itu akan tumbuh menjadi penopang kehidupan, bagi orangutan di BORA, satwa liar lain, manusia yang tinggal di sekitarnya, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih luas lagi. Di bawah terik Berau yang tak kenal ampun, akar-akar kecil itu ditanam bukan sekadar ke dalam tanah, melainkan ke dalam harapan: bahwa konservasi adalah kerja bersama, dan setiap tangan memiliki peran dalam menjaga agar bumi ini tetap mampu menopang banyak kehidupan. (RAF)

SEMAKIN PERCAYA DIRI, AGAM DAN DAN MAXIMUS BERADA DI ENCLOSURE UTARA

Cuaca pagi yang cerah meliputi kawasan sekolah hutan dengan cahaya keemasan yang perlahan menembus kanopi. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun, memantulkan sinar matahari yang hangat namun lembut. Pagi seperti ini selalu menghadirkan energi baru dan pagi itu, semangat tersebut terasa jelas pada Agam dan Maximus bahkan sebelum mereka benar-benar dilepas dari gendongan keeper.

Begitu kaki mereka menyentuh tanah, keduanya langsung bergerak tanpa ragu. Seolah telah menyusun rencana sejak dalam perjalanan, Agam dan Maximus berpisah arah. Di enclosure bagian selatan, Asih memulai harinya sendiri. Sementara itu, di enclosure utara, Agam dan Maximus bersiap menjalani sesi sekolah hutan dengan penuh antusias. Meski terpisah pagar dan jarak, ketiganya tetap berada dalam lanskap hutan yang sama terhubung oleh suara dedaunan dan aroma pepohonan liar yang khas.

Agam dengan percaya diri, segera memanjat pohon terdekat. Gerakannya lincah dan tegas mengarah langsung ke pucuk pohon seakan ingin menaklukkan ketinggian. Di atas yang sama, Maximus memilih pohon di sebelahnya. Ia memanjat dengan ritme yang sedikit lebih hati-hati, namun tak kalah mantap. Perbedaan pilihan ini bukan sekadar arah, melainkan tanda bahwa keduanya memulai membangun kemandirian berani menentukan jalur masing-masing.

Dari atas pohon, aktivitas mencari makan pun dimulai. Buah Manarung yang mulai matang menjadi santapan pagi mereka. Dengan cekatan, jari-jari mereka memetik dan menggenggam buah, menggigit dagingnya, lalu membiarkan kulit dan serpihannya jatuh ke lantai hutan. Sesekali, Maximus terlihat penasaran mengupas kulit pohon, mencoba menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil ini adalah bagian penting dari proses belajar mengenali variasi pakan alami yang kelak akan menopang hidup mereka di alam liar.

Semakin pagi beranjak, semakin terlihat perubahan pada Maximus. Jika sebelumnya ia cenderung mengikuti Agam dari dekat, kini ia mulai berani menjaga jarak. Ia menjelajah cabang demi cabang tanpa terus-menerus memastikan posisi Agam, selama Agam tidak berada dalam gendongan keeper. Kepercayaan dirinya tumbuh perlahan, namun pasti. Inilah salah satu capaian penting dalam proses rehabilitasi, kemampuan untuk berdiri sendiri, meski tetap merasa aman.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi ini tidak teramati aktivitas membuat sarang. Biasanya, menjelang siang mereka akan melipat ranting dan daun untuk membentuk tempat beristirahat sederhana. Namun hari ini, fokus mereka sepenuhnya tertuju pada pencarian pakan. Musim buah yang mulai hadir seakan memanggil naluri alami mereka untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Ketika perut mulai terisi dan energi kembali terkumpul, perhatian mereka mendadak teralihkan. Di sisi lain pagar, Asih terlihat bergerak di dalam enclosure bagian selatan. Kehadirannya menjadi magnet yang kuat. Agam dan Maximus segera turun dari pohon, langkah mereka cepat namun tetap waspada.

Agam tampak paling bersemangat. Ia mendekati pagar pembatas, matanya tak lepas dari Asih. Ada dorongan kuat untuk mendekat, mungkin untuk bermain, mungkin sekadar memastikan keberadaan temannya. Namun di antara mereka terdapat pagar listrik yang menjadi batas keamanan. Saat Agam mencoba mencari celah untuk menyerang, keeper dengan sigap menariknya menjauh. Tindakan cepat ini bukan sekadar pencegahan, melainkan bagian dari pembelajaran tentang batas dan keselamatan.

Sesaat, Agam menunjukkan rasa ingin tahun yang belum terjawab. Namun tak lama kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian pada lingkungan sekitarnya. Maximus pun mengikuti, kembali menjelajah tanah dan pepohonan di sekitarnya. Interaksi singkat melalui pagar itu tetap menjadi stimulasi sosial yang penting mengingatkan bahwa mereka adalah individu sosial yang kelak harus mampu berinteraksi secara sehat di alam liar.

Di bawah cuaca yang tetap cerah, sesi sekolah hutan pagi itu, menunjukkan perkembangan yang jelas pada Agam dan Maximus. Keduanya semakin aktif mencari pakan alami tanpa banyak bergantung satu sama lain. Mereka mampu memanjat, memilih sumber pakan dan berpindah pohon dengan koordinasi tubuh yang semakin baik. Respons keeper yang cepat saat Agam mendekati pagar listrik juga menjadi bagian penting dari pembelajaran batas aman di dalam enclosure. Interaksi visual dengan Asih tetap memberikan stimulasi sosial, namun fokus utama mereka hari itu tetap pada eksplorasi dan pencarian makan (RID)

GORESAN WARNA UNTUK GENERASI SIAGA DARI KB TUNAS MULIA

Anak-anak biasanya mengenal hewan peliharaan dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka yaitu warna bulunya, mangkuk makanannya, kalung di lehernya, atau rumah kecil tempat ia tidur. Dari titik itulah kegiatan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana di Kelompok Bermain (KB) Tunas Mulia, Kecamatan Mlati terasa relevan. Bersama BPBD Sleman dan mahasiswi magang Pendidikan Geografi FISIP Universitas Negeri Yogyakarta, guru dan peserta didik belajar siaga lewat simulasi gempa, praktik berlindung, hingga berjalan bersama menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Di sela kegiatan, anak-anak diajak memahami bahwa saat bencana terjadi, manusia harus lebih dulu dipastikan aman. Namun setelah itu, satwa yang juga butuh kasih sayang, bisa panik dan terdampak, perlu ikut diperhatikan. Pesan ini disampaikan secara sederhana agar mudah dicerna, menyayangi hewan berarti juga memikirkan keselamatannya, bahkan sebelum situasi darurat benar-benar terjadi.

Lewat warna-warna yang dituangkan anak-anak ke gambar-gambar itu, tersimpan lebih dari sekedar kreativitas. Guru dapat melihat bagaimana mereka memahami perlengkapan dasar peliharaan sekaligus membayangkan proses evakuasi satwa. Dari lembar-lembar bergambar itulah tumbuh harapan. Ketika suatu hari sulit datang, anak-anak ini tak hanya ingat cara menyelamatkan diri, tetapi juga tergerak untuk memastikan anjing, kucing, dan satwa kesayangan mereka tidak tertinggal. (VID)