SEMAKIN PERCAYA DIRI, AGAM DAN DAN MAXIMUS BERADA DI ENCLOSURE UTARA

Cuaca pagi yang cerah meliputi kawasan sekolah hutan dengan cahaya keemasan yang perlahan menembus kanopi. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun, memantulkan sinar matahari yang hangat namun lembut. Pagi seperti ini selalu menghadirkan energi baru dan pagi itu, semangat tersebut terasa jelas pada Agam dan Maximus bahkan sebelum mereka benar-benar dilepas dari gendongan keeper.

Begitu kaki mereka menyentuh tanah, keduanya langsung bergerak tanpa ragu. Seolah telah menyusun rencana sejak dalam perjalanan, Agam dan Maximus berpisah arah. Di enclosure bagian selatan, Asih memulai harinya sendiri. Sementara itu, di enclosure utara, Agam dan Maximus bersiap menjalani sesi sekolah hutan dengan penuh antusias. Meski terpisah pagar dan jarak, ketiganya tetap berada dalam lanskap hutan yang sama terhubung oleh suara dedaunan dan aroma pepohonan liar yang khas.

Agam dengan percaya diri, segera memanjat pohon terdekat. Gerakannya lincah dan tegas mengarah langsung ke pucuk pohon seakan ingin menaklukkan ketinggian. Di atas yang sama, Maximus memilih pohon di sebelahnya. Ia memanjat dengan ritme yang sedikit lebih hati-hati, namun tak kalah mantap. Perbedaan pilihan ini bukan sekadar arah, melainkan tanda bahwa keduanya memulai membangun kemandirian berani menentukan jalur masing-masing.

Dari atas pohon, aktivitas mencari makan pun dimulai. Buah Manarung yang mulai matang menjadi santapan pagi mereka. Dengan cekatan, jari-jari mereka memetik dan menggenggam buah, menggigit dagingnya, lalu membiarkan kulit dan serpihannya jatuh ke lantai hutan. Sesekali, Maximus terlihat penasaran mengupas kulit pohon, mencoba menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil ini adalah bagian penting dari proses belajar mengenali variasi pakan alami yang kelak akan menopang hidup mereka di alam liar.

Semakin pagi beranjak, semakin terlihat perubahan pada Maximus. Jika sebelumnya ia cenderung mengikuti Agam dari dekat, kini ia mulai berani menjaga jarak. Ia menjelajah cabang demi cabang tanpa terus-menerus memastikan posisi Agam, selama Agam tidak berada dalam gendongan keeper. Kepercayaan dirinya tumbuh perlahan, namun pasti. Inilah salah satu capaian penting dalam proses rehabilitasi, kemampuan untuk berdiri sendiri, meski tetap merasa aman.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi ini tidak teramati aktivitas membuat sarang. Biasanya, menjelang siang mereka akan melipat ranting dan daun untuk membentuk tempat beristirahat sederhana. Namun hari ini, fokus mereka sepenuhnya tertuju pada pencarian pakan. Musim buah yang mulai hadir seakan memanggil naluri alami mereka untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Ketika perut mulai terisi dan energi kembali terkumpul, perhatian mereka mendadak teralihkan. Di sisi lain pagar, Asih terlihat bergerak di dalam enclosure bagian selatan. Kehadirannya menjadi magnet yang kuat. Agam dan Maximus segera turun dari pohon, langkah mereka cepat namun tetap waspada.

Agam tampak paling bersemangat. Ia mendekati pagar pembatas, matanya tak lepas dari Asih. Ada dorongan kuat untuk mendekat, mungkin untuk bermain, mungkin sekadar memastikan keberadaan temannya. Namun di antara mereka terdapat pagar listrik yang menjadi batas keamanan. Saat Agam mencoba mencari celah untuk menyerang, keeper dengan sigap menariknya menjauh. Tindakan cepat ini bukan sekadar pencegahan, melainkan bagian dari pembelajaran tentang batas dan keselamatan.

Sesaat, Agam menunjukkan rasa ingin tahun yang belum terjawab. Namun tak lama kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian pada lingkungan sekitarnya. Maximus pun mengikuti, kembali menjelajah tanah dan pepohonan di sekitarnya. Interaksi singkat melalui pagar itu tetap menjadi stimulasi sosial yang penting mengingatkan bahwa mereka adalah individu sosial yang kelak harus mampu berinteraksi secara sehat di alam liar.

Di bawah cuaca yang tetap cerah, sesi sekolah hutan pagi itu, menunjukkan perkembangan yang jelas pada Agam dan Maximus. Keduanya semakin aktif mencari pakan alami tanpa banyak bergantung satu sama lain. Mereka mampu memanjat, memilih sumber pakan dan berpindah pohon dengan koordinasi tubuh yang semakin baik. Respons keeper yang cepat saat Agam mendekati pagar listrik juga menjadi bagian penting dari pembelajaran batas aman di dalam enclosure. Interaksi visual dengan Asih tetap memberikan stimulasi sosial, namun fokus utama mereka hari itu tetap pada eksplorasi dan pencarian makan (RID)

GORESAN WARNA UNTUK GENERASI SIAGA DARI KB TUNAS MULIA

Anak-anak biasanya mengenal hewan peliharaan dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka yaitu warna bulunya, mangkuk makanannya, kalung di lehernya, atau rumah kecil tempat ia tidur. Dari titik itulah kegiatan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana di Kelompok Bermain (KB) Tunas Mulia, Kecamatan Mlati terasa relevan. Bersama BPBD Sleman dan mahasiswi magang Pendidikan Geografi FISIP Universitas Negeri Yogyakarta, guru dan peserta didik belajar siaga lewat simulasi gempa, praktik berlindung, hingga berjalan bersama menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Di sela kegiatan, anak-anak diajak memahami bahwa saat bencana terjadi, manusia harus lebih dulu dipastikan aman. Namun setelah itu, satwa yang juga butuh kasih sayang, bisa panik dan terdampak, perlu ikut diperhatikan. Pesan ini disampaikan secara sederhana agar mudah dicerna, menyayangi hewan berarti juga memikirkan keselamatannya, bahkan sebelum situasi darurat benar-benar terjadi.

Lewat warna-warna yang dituangkan anak-anak ke gambar-gambar itu, tersimpan lebih dari sekedar kreativitas. Guru dapat melihat bagaimana mereka memahami perlengkapan dasar peliharaan sekaligus membayangkan proses evakuasi satwa. Dari lembar-lembar bergambar itulah tumbuh harapan. Ketika suatu hari sulit datang, anak-anak ini tak hanya ingat cara menyelamatkan diri, tetapi juga tergerak untuk memastikan anjing, kucing, dan satwa kesayangan mereka tidak tertinggal. (VID)

DUA SIAMANG DISELAMATKAN DARI KERANJANG BUAH DI JAMBI

Jambi, 26 Januari 2026 – Praktik lama yang tak pernah benar-benar hilang kembali terungkap. Dua bayi siamang (Symphalangus syndactylus) yang bahkan belum genap setahun, ditemukan disembunyikan di dalam keranjang buah yang telah dimodifikasi. Dua bayi siamang yang seharusnya masih bergantung pada induknya di kanopi hutan Sumatra justru ditemukan tersembunyi di dalam wadah sempit di Kota Jambi. Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Polres Jambi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengamankan dua individual tersebut dari seorang pedagang berinisial BS di Jl. Lingkar Selatan, Kelurahan Talang Gulo, Kecamatan Kota Baru, Jambi.

Dari keterangan awal, satwa dilindungi itu diperoleh melalui transaksi daring dari wilayah Pelembang. Pola ini menegaskan bahwa perdagangan satwa liar tidak lagi selalu berlangsung di pasar terbuka, tetapi bergerak lewat ruang digital sunyi, cepat, dan sulit dilacak. Di balik satu unggahan dan satu transaksi, ada proses panjang yang sering kali tak terlihat: perburuan di habitat alami, pemisahan paksa bayi satwa dari induk, dan putusnya satu generasi di alam.

Siamang merupakan primata kecil di Pulau Sumatra yang berstatus terancam punah (endangered) menurut Daftar Merah IUCN dan dilindungi penuh oleh hukum di Indonesia. Mereka hidup di kanopi hutan, bergerak lincah dari pohon ke pohon, dan berperan sebagai penyebar biji yang membantu regenerasi hutan tropis. Hilangnya individual muda bukan hanya soal angka populasi, tetapi juga soal masa depan hutan itu sendiri. Ketika satu bayi siamang keluar dari ekosistemnya, ada rantai ekologis yang ikut terputus dan ada masa depan yang dipertaruhkan.

Saat ini, pelaku dan barang bukti telah diamankan di Polres Jambi untuk menjalani proses hukum. Dua bayi siamang tersebut telah dititipkan kepada BKSDA Jambi utuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. COP mengapresiasi langkah cepat aparat penegak hukum dalam menangani kasus ini. Penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci untuk memastikan bahwa satwa liar tidak terus-menerus menjadi korban dari permintaan pasar dan menegaskan bahwa Hutan Sumatra masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup, bukan hanya di cerita, tetapi di kenyataan. (DIT)