PESAN NOVI UNTUK ORANGUTAN FELIX

Selama tiga bulan ini, aku melihat banyak sekali perubahan dari Felix. Waktu awal aku masuk menjadi tim babysitter, Felix terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Aku tahu aku adalah orang baru yang ia lihat, karena itu ia terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Seiring berjalannya waktu, Felix mulai percaya kepadaku. Selain itu, ketika takut, biasanya Felix akan pipis. Meskipun hanya melihat keeper laki-laki saja, ia juga akan takut hingga pipis. Ketika di sekolah hutan pun, Felix masih sulit untuk sekadar lepas dari gendongan babysitter. Bahkan ketika sudah berhasil lepas, Felix akan menangis tantrum, ia akan berjalan mengikuti babysitter. Jika sudah bisa meraih babysitter, ia akan memeluk kaki babysitter, setelah itu barulah ia akan diam.

Selama sekolah hutan berjalan, Felix hanya bisa duduk dan memeluk kaki babysitter saja. Terkadang kita akan membiarkan Felix menangis ketika ia tidak ingin dilepaskan dari gendongan. Bukan karena tidak sayang, tujuan rehabilitasi adalah memperbaiki mereka menjadi orangutan liar, bukan orangutan jinak yang nurut kepada manusia.

Dari situ, Felix mau tidak mau membiasakan dirinya menjauh dari babysitter. Awal-awal Felix ketika baru mau memanjat pohon, ia sering sekali mengamati babysitter dari atas. Ketika turun pun, Felix akan menangis karena ia tidak tahu caranya turun dari pohon. Felix bisa turun karena diarahkan oleh babysitter.

Ketika tiga bulan terakhir ini, Felix yang cengeng, yang suka menempel macam perangko susah lepas, Felix yang penakut itu, di pandanganku hilang. Aku melihatnya yang sekarang, Felix keren, si hebat yang mulai menjelajah jauh mengikuti sahabatnya yaitu Pansy. Dari Pansy juga, Felix banyak belajar dan tidak takut lagi ketika babysitter jauh dari pandangannya. Tak hanya sampai di situ, Felix pun berani menjelajah sendiri tanpa sosok Pansy.

Felix yang aktivitas dominannya mengikuti kemana perginya Pansy juga memperhatikan Pansy yang sudah pandai membuat sarang. Dan dalam tiga bulan terakhir ini pun, Felix sudah bisa membuat sarang walaupun belum sempurna seperti orangutan lainnya, tapi itu suatu kemajuan yang sangat kita nantikan dari Felix. Ia juga terlihat beberapa kali memperbaiki atau membenahi sarang lama bekas orangutan lain. Felix juga sering terlihat membuat sarang bersama Pansy.

Sampai saat ini, Felix masih terlihat takut kepada keeper laki-laki, walau keeper tertentu saja dan tidak pipis ketika takut. Keberanian menjelajah sendirinya juga diikuti keberaniannya melawan seperti mencoba memukul keeper atau membuka mulutnya seperti gestur ingin menggigit. Perkembangan Felix yang sangat bagus karena sewajarnya lah, orangutan menghindari manusia.

Harapanku kepada Felix, tetap jadi Felix yang sekarang. Aku yakin Felix bisa jauh lebih baik lagi. Aku tahu kamu (Felix) banyak melewati traumamu, dan yaps… terima kasih Felix sudah bertahan dan mau belajar meniru orangutan lainnya. Kalau bukan dari kemauan kamu untuk berubah, siapa lagi yang dapat mengubah dirimu sendiri. Semangat terus Felix.

Dari aku, Novi, untukmu Felix. (NOV)

PERJALANAN PULANG ORANGUTAN KE RUMAH BARU

“Beep… beep… beep…”

Suara pemindai microchip memecah keheningan. Sebuah microchip yang baru saja ditanamkan di bawah kulit punggung kiri orangutan berhasil terdeteksi. Bunyi sederhana itu menjadi penanda bahwa seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan telah selesai. Orangutan kini siap melanjutkan perjalanan yang paling penting yaitu pulang.

Beberapa hari sebelumnya, semua belum semudah ini. Tim harus menyusuri hutan yang terfragmentasi, memantau pergerakan, mengejar dengan penuh kehati-hatian, dan menghalau orangutan dari area yang tidak lagi aman bagi kehidupan mereka. Kesabaran, tenaga, dan kerja sama menjadi kunci hingga akhirnya satu per satu orangutan berhasil diamankan. Bukan untuk dipisahkan dari alam, tetapi justru agar mereka bisa kembali memiliki kesempatan hidup di habitat yang lebih baik.

Namun proses penyelamatan hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Kandang transport mulai bergerak meninggalkan lokasi rescue. Roda kendaraan berputar melewati jalan-jalan berdebu di Bengalon, menembus teriknya matahari di Wahau, menghadapi medan menantang menuju Busang. Perjalanan darat kemudian berganti menjadi perjalanan menyusuri sungai. Perahu perlahan membelah arus yang mengalir tenang, membawa harapan menuju tujuan akhir yaitu Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat.

Rasa lelah selama perjalanan seakan menghilang ketika hutan mulai menyambut kedatangan kami. Pepohonan menjulang tinggi membentuk kanopi hijau yang rapat. Angin menggerakkan dahan dan dedaunan, menghadirkan suara alam yang menenangkan. Gemericik sungai berpadu dengan kicauan satwa liar, seolah menyampaikan bahwa rumah itu masih ada, masih menunggu penghuninya kembali.

Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat kini menjadi rumah baru bagi Gusti, individu orangutan yang berhasil diselamatkan melalui kerja sama APE Crusader, BKSDA SKW II Tenggarong, serta dukungan masyarakat setempat yang memilih untuk menjaga kehidupan liar dibanding membiarkannya terus terancam.

Momen yang paling dinanti akhirnya tiba.

“Greek… Greek…”

Suara pintu kandang perlahan terangkat. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Yang terdengar hanyalah suara hutan. Gusti melangkah perlahan keluar kandang. Sesaat ia berhenti, mengamati sekeliling, menghirup aroma hutan yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya. Tanpa ragu, kedua tangannya meraih batang pohon pertama, lalu tubuhnya bergerak lincah memanjat semakin tinggi. Dalam beberapa detik, Gusti telah menyatu dengan rimbanya kanopi, menghilang di antara dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Momen itu menjadi pengingat bahwa kebebasan adalah tempat terbaik bagi satwa liar. Setiap penyelamatan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal kehidupan baru kesempatan kedua bagi Gusti untuk kembali menjalani hidup sebagaimana orangutan seharusnya, bebas di rumahnya sendiri.

Semoga setiap langkah, setiap ayunan tangan di antara pepohonan, dan setiap hari yang orangutan jalanin di Hutan Lindung menjadi awal dari kehidupan yang lebih aman, lebih liar, dan lebih bebas sebagaimana seharusnya orangutan hidup. (TAL)

BAGAIMANA SATWA KETIKA BANJIR MENYAPA

Bencana datang. Manusia kelimpungan. Namun, bagaimana dengan hewan, bagaimana dengan satwa? Apa yang akan kita lakukan ketika banjir menerjang tanpa aba-aba, ketika langit mendung tak terkira, ketika semua air tumpah di hadapan kita? Pada Pameran Foto “Menolong Satwa Banjir Sumatera” yang ditaja Centre for Orangutan Protection inilah jejak-jejak itu dihadirkan bukan sekadar menjadi visual, bukan sekadar menjadi gambar, bukan sekadar dijepret kamera lalu mata kita menikmatinya. Bukan. Foto-foto di sini akan “menceritakan” lewat perasaan dan perjuangan yang dikonkretkan dengan tindakan “pencarian”.
Pada foto jejak kaki salah satu satwa, kita melihat bahwa “ada yang lewat” di situ, ada yang pernah tinggal, dan ada yang pernah menetap. Dalam foto ini, jejak kaki berfungsi sebagai “tanda” bahwa suatu daerah pernah dilewati sekaligus ditinggali oleh manusia dan satwa. Tak hanya itu, jejak kaki juga menjadi metafora kehilangan, ketakutan, atau perjalanan tanpa ujung bahwa ada yang pergi dari suatu daerah dan entah akan kembali atau tidak. Maka dari itu, suatu daerah menjadi sangat penting bagi satwa karena mereka tinggal berdampingan dengan kita, manusia.
Itu dibuktikan dengan foto satwa sendirian dengan gestur seperti sedang mencari sesuatu. Foto ini juga menarik karena teknik pengambilan sengaja untuk menimbulkan efek tertentu, dengan kain penutup di sebelah kiri dan satwa di sebelah kanan. Apa yang dicari satwa itu kira-kira? Apakah makanan? Ketika bencana datang, manusia kelimpungan mencari pangan, pun satwa begitu. Dari foto salah satu relawan memberi makan satwa, kita melihat itu, bahwa akses dan kesempatan untuk mendapatkan pangan yang layak juga “dimiliki” oleh para satwa. Di tengah kekacauan yang terjadi pohon tumbang, sampah di mana-mana, bangunan runtuh, seng saling menimpa satu sama lain tindakan dalam pameran foto ini, gestur yang ditimbulkan pameran foto ini, menyiratkan satu hal yang penting yaitu empati. Bahwa kita juga merasakan sesuatu yang sama, kita terkena dampak yang sama. Karena itulah kita saling memberikan bantuan.
Bantuan untuk saling menemukan, seperti yang ada pada foto kucing putih nangkring di jendela sebuah rumah panjang, dengan parabola. Foto ini menampilkan rumah sebagai “arsip” sekaligus ingatan kolektif. Bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal dan kucing bukan cuma peliharaan, namun lebih dari itu: rumah sebagai peninggalan, lahirnya kebudayaan dalam keluarga, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Kucing putih yang nangkring dengan santai juga menjadi sesuatu yang menarik karena “putih” badannya di antara kehancuran yang terjadi di sekitarnya yang diwakili warna “cokelat” atau warna tanah.
Tanah tempat kita bernaung, berkomunikasi, dan berdoa. Berdoa agar semua benda-benda yang berserakan sekaligus bertumpuk lekas dibereskan. Di tengah kekacauan itu, foto satwa yang sedang berada di tumpukan benda-benda dan masuk ke dalam “bayangan” yang tercipta. Foto ini menyiratkan sesuatu yang kadang tak kita lihat, bahwa yang satwa ingin mengatakan, “kami di sini bersama kalian”. Agaknya teknik pengambilan foto ingin mengatakan hal tersebut. Terlebih, satwa menjadi “focal point” foto ini. Begitu juga yang diceritakan dari foto satwa yang telah mati (menjadi bangkai?) dengan sepatu boot dan sisa satwa tersebut, kita bisa melihat bahwa bencana menimbulkan korban yang bukan hanya manusia, namun juga satwa. Dalam foto ini kita melihat tanah dan daun-daun. Selain ingin memberitahu sesuatu, foto ini juga menampilkan gestur apa adanya: bahwa yang terjadi pada tanah (bencana) akan kembali ke tanah (terkubur).
Begitu juga foto satwa yang sedang tertidur pulas. Foto ini menimbulkan efek keterasingan, kekalahan, sekaligus kerinduan terhadap rumah, terhadap tuannya, terhadap apa-apa yang biasa dijalani satwa: bermain ke sana kemari bersama manusia, bercengkerama bersama kita.
Satwa apa pun itu: anjing, kambing, kucing, ayam… mereka semua adalah saudara kita. Mereka mendapatkan akses sekaligus kesempatan yang sama untuk “terus hidup” dan berdampingan dengan manusia, dengan kita: makhluk yang penuh dengan logika, pemikiran, dan empati. (Titan Sadewo_Orangufriend Medan)